Tulisan : Mereka Kira Hidupmu Baik-baik Saja

Mereka kira, kamu tidak memiliki masalah. Tampak ceria dan membanggakan. Lahir dari keluarga yang hebat juga sekolah yang tinggi. Mereka yang hanya melihatmu dari pukul 9 pagi sampai jam 3 sore mungkin. Ketika di tempat bekerja, di cafe tempat kalian berjanji bertemu, atau berpapas di jalan.

Mereka kira, kamu baik-baik saja. Mereka kira kamu tidak memiliki ketakutan ataupun kesedihan. Dan mereka mungkin tidak akan pernah tahu sampai kau sendiri benar-benar menceritakannya.

Mereka kira menjadi orang dengan gelar atau profesi sepertimu itu menyenangkan dan luar biasa. Menjadi seorang dokter muda, menjadi seorang insinyur, menjadi seorang penulis. Apapun itu. Mereka kira kau baik-baik saja.

Dan mereka sungguh tidak akan pernah tahu apa yang benar-benar terjadi terhadapmu. Ketakutanmu pada sesuatu yang kamu rahasiakan, entah itu masa depan, entah itu kebingunganmu menghadapi orang tua, entah itu masalah finansialmu, entah itu masalah masa lalumu, atau masalah pekerjaanmu. Mereka tidak benar-benar tahu.

Kau bisa saja tertawa dan terlihat baik-baik saja saat bersama dengan mereka. Bercerita hingga berbusa busa tentang ideologi dan impianmu. Tentang hidupmu, cita-cita, hingga pencapaian-pencapaianmu.

Tapi lepas itu, lepas berpisah dengan mereka. Dan kamu kembali dengan dirimu sendiri. Membuka pintu rumahmu yang sepi, kamarmu yang sempit. Dan kembali menghadapi kesendirianmu kala malam mencekam. Dan kamu teringat kembali kepada kegelisahan dan ketakutanmu. Pernahkah mereka melihatmu dalam keadaan sendiri baik secara fisik maupun psikis seperti itu.

Tidak pernah kan?

Dan, mungkin selama itu pula mereka kira hidupmu baik-baik saja.

Bandung, 14 April 2014 | (c)kurniawangunadi

(Source: kurniawangunadi)

(Source: tabi-saki)

Ya, ada cinta! Aku jatuh cinta pada kata-kata. Namun tak slalu aku ingin membicarakannya.

lionofallah:

And He gave you from all you asked of Him. And if you should count the favor of Allah , you could not enumerate them. Indeed, mankind is most unjust and ungrateful.

Surah Ibrahim | Verse 34

www.lionofAllah.com

Menatap langit bertabur bintang gemintang!

(Source: claudio-c-k)

moghamara:

My day in Adʿiyah

Mari berdoa :)

Wahai Allah.. Sejak lama, ingin sekali aku bisa menunjukkan kepada segenap bangsa ini, nyata adanya sejumlah manusia yang rasa cintanya terhadap tanah air dan ummat ini melebihi rasa cinta mereka terhadap diri mereka sendiri.

Nyata adanya sejumlah manusia yang telah mewakafkan harta dan jiwanya, siang dan malamnya, mimpi dan obsesi pribadinya, untuk kebaikan negeri ini. Nyata adanya sejumlah manusia yang menangis di malam-malam sunyi, memohon kepada-Mu kekuatan untuk membangun negeri ini. Nyata adanya sejumlah manusia yang meski telah membawa banyak luka dan perih, dicurigai, dan dicaci, tak letihnya mereka tetap berdiri demi cita-cita mulia negeri ini.

Wahai Allah.. Aku menyaksikan mereka hanyalah hamba-Mu yang lemah. Maka kuatkanlah mereka. Aku menyaksikan mereka hanyalah hamba-Mu yang miskin. Maka cukupkanlah mereka. Aku menyaksikan mereka hanyalah hamba-Mu yang sederhana. Maka handalkanlah kemampuan mereka. Karena sesungguhnya Engkau pun telah mengetahui, hati mereka hanya merindukan ridha-Mu atas amal-amal mereka dan atas tanah air ini.

Wahai Allah.. Aku merindu Islam mewujud menjadi rahmat bagi negeri ini dan seluruh penduduk bumi. Aku pun merindu seluruh manusia bisa menikmati kedamaian dan kebahagiaan yang dipersembahkan Islam. Dan aku menyaksikan kerinduan yang sama memenuhi hati-hati mereka. Maka, wahai Allah, bimbinglah hamba-hamba-Mu dalam menegakkannya. Ampunkanlah mereka. Kuatkanlah mereka. Sertailah mereka. Mampukanlah mereka. Engkaulah yang Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha Penguasa.

— Doaku, untuk Partai Keadilan Sejahtera. (via yasirmukhtar)

Para Kanda Sejati

muamarsalim:

Saya teramat malu sendiri sebenarnya membaca baris-baris kicauan ustadz Salim A. Fillah ini. Jika di akhir pernyataannya, ustadz Salim merasa jauh dari persona Kanda Sejati, lantas bagaimana dengan saya yang tidak ada apa-apanya ini. Allah, kuatkanlah kami.

Para Kanda Sejati

1) Para kanda mahasiswa itu hadir ke sekolah kami; dalam acara kerohanian bagi murid baru. Para alumni ini; shalih, rapi, & berprestasi. #ks

2) Konon meski telah lulus, mereka rajin sowan menghadap ke rumah para guru; menghaturkan bakti, menyimak ilmu, nasehat, & pengalaman. #ks

3) Tak heran, Ayahanda Kepala Sekolah & para pembina amat mempercayai & membanggakan mereka; mengundang mereka tuk membina adik-adiknya. #ks

4) Saya; jebolan pesantren yang serba tanggung dalam ilmu; takjub akan semangat mereka mendalami Islam, mengkaji, & beramal dengannya. #ks

5) Saya; yang masih duduk di awal kelas I SMA; merasa menemukan kakak-kakak yang ‘amat dewasa’ dalam beragama; tecermin dari akhlaqnya. #ks

6) Ya; ketika mereka mengajak kami Tilawah Quran; sesekali kami harus ‘lancang’ membetulkan bacaannya; & mereka lapang dada menerimanya. #ks

7) Para kanda mahasiswa itu pandai menempatkan diri sebagai ‘kawan sebaya’ dalam mengilmui Islam & mengamalkan nan diilmui bersama kami. #ks

8) Perjumpaan di program penyambutan & pembinaan awal itu berkesan di hati. Setelahnyapun, mereka sering tampak hadir di sekolah kami. #ks

9) Selalu ada raut bangga dari para guru kami saat mereka datang; pujian & himbauan agar kami mengikuti jejak mereka kerap terdengar. #ks

10) Satu saat, salah seorang dari para kakanda itu menemui saya & menawarkan; apa berkenan jika pembinaan berlanjut secara intensif? #ks

11) Saya, dengan semangat mengiyakan. Saya merasa ini jalan tuk memenuhi amanah guru saya di pesantren; Allahuyarham KH Mu’tamid Cholil. #ks

12) Beliau dulu berpesan; “Di manapun kamu; imani, ilmui, amalkan, & dakwahkan Islam ini; sabari jalannya dengan bersama orang shalih.” #ks

13) Maka saya menghimpun beberapa kawan. Jadilah kami melingkar setiap pekan; belajar Islam dibimbing beliau; sebut saja ‘Kanda Sejati’. #ks

14) Sebagai catatan; kini, 15 tahun kemudian, kami terpisah ke segala penjuru; tapi ukhuwah yang Kanda Sejati rajutkan tak pernah padam. #ks

15) Kami dikenalkan dengan Tilawah, Tazkiyah, & Ta’limul Kitab was Sunnah; tugas Rasul dalam mengajar ummat yang pula pewarisnya emban. #ks

16) Kami selalu memulai jumpa dengan bacaan Quran, setor hafalan, mengkaji aneka madah dari ‘Aqidah hingga Fiqh bersuasana kekeluargaan. #ks

17) Lalu ada taushiyah yang digilir tugasnya, disusul berbagi kabar gembira maupun duka, serta muhasabah yang kadang mengundang airmata. #ks

18) Saya selalu merindui pertemuan itu; bukan hanya karena tambah ilmu; tapi bagi saya, ia benar terasa sebagai perjumpaan karena iman. #ks

19) Menjelangnya selalu terngiang Mu’adz atau Ibn Mas’ud yang sesekali berkata, “Saudaraku, mari sejenak duduk, mari sejenak beriman.” #ks

20) Dalam hadits; ialah majelis dzikir yang malaikat mengerumuninya lalu melapor pada Allah. Yang hanya mampir sekalipun beroleh berkah. #ks

21) Sungguh terasa; ialah tempat dicurahkan rahmat, dinaungkan sayap malaikat, diturunkan sakinah, & para pesertanya dibanggakan Allah. #ks

22) Berjumpa Kanda Sejati adalah nikmat bertemu orang shalih; sinar wajah, kata, & geraknya; semua mengilhami kami dalam ibadah & ‘amal. #ks

23) Entah kaset, majalah, atau buku, kadang makanan & minyak wangi; Kanda Sejati sering membawakan kami buah tangan yang mengesan hati. #ks

24) Agaknya, beliau tak alpa memantau kami. Sering masalah kawan sekelompok yang kami belum saling tahu; beliau telah mencarikan solusi. #ks

25) Kawan yang tak cerita apapun tentang keluarganya terkejut saat Kanda Sejati bersama kami tetiba muncul di RS tempat ayahnya dirawat. #ks

26) Seorang kawan lain heran dengan biaya sekolahnya; ternyata sudah dibayarkan Kanda Sejati yang diam-diam ajak kami iuran membantunya. #ks

27) Kawan yang berbeda tersipu malu, saat ditepuk bahunya oleh Kanda sambil senyum di RS; kala menunggui akhwat pujaannya yang sakit;D #ks

28) Ya, hanya senyum. Itu nasehat beliau untuk yang masih melanggar larangan berduaan meski tahu ilmu. Petuah tanpa kata itu menghunjam. #ks

29) Saya pula pernah diusir pulang dari acara menginap yang disebut Mabit; karena Kanda tahu Ibu saya sakit, tapi saya memaksakan pergi. #ks

30) Kanda Sejati berjuang memperlakukan kami dengan hikmah; masing-masing sesuai kekhasannya, seakan dialah yang paling mengenal kami. #ks

31) Saya selalu takjub & bertanya; tentang segala biaya, tenaga, & waktu Kanda Sejati yang berharga; yang beliau korbankan bagi kami. #ks

32) “Sebab jika kalian kelak jadi pejuang Islam”, ujarnya satu hari sambil berkaca-kaca menatap kami, “Saya berharap memegang sahamnya.” #ks

33) Berat sekali. Tapi kesungguhannya membimbing kami membuat kami tak ragu bahwa Kanda Sejati pantas disebut sebagai “Sang Murabbi!” #ks

34) Begitulah, meski kami belum laik menjadi ‘mutarabbi’ baginya; sungguh saat-saat bersama beliau adalah hari terindah di masa sekolah. #ks

35) Di kelas III, beliau minta kami tuk mulai pula membina; sebab perbaikan diri akan terjaga dengan mengajar sembari belajar, katanya. #ks

36) Memang terasa ada kefahaman berlipat saat kami mulai jadi pembina adik-adik kelas. Rasa malu pada mereka, melecut pula ilmu & ‘amal. #ks

37) Ialah percepatan bagi kami; didikan pendewasaan yang diarahkan Kanda Sejati, dengan teladan membina yang beliau torehkan selama ini. #ks

38) Pergaulan dengan Kanda Sejati membuat wawasan dunia Islam & antarbangsa kami juga meluas. Tentang Palestina, ‘Iraq, hingga Amerika. #ks

39) Bagaimana dengan politik? Kanda Sejati hanya selalu menekankan kemenyeluruhan Islam nan sempurna, mengatur pribadi hingga bernegara. #ks

40) Dari Kanda Sejati kami kenal nama Rahmat ‘Abdullah, @hnurwahid, & @anismatta misalnya; tapi hanya karena tulisan mereka dikutipnya. #ks

41) Sungguh tak pernah Kanda Sejati melanggar ‘kesucian’ wiyata mandala sekolah kami, dengan membicarakan pilihan politiknya, misalnya. #ks

42) Kami hanya menduga-duga, mungkin di Pemilu lalu, Kanda Sejati memilih partainya Rahmat ‘Abdullah, @hnurwahid, & @anismatta itu; PK. #ks

43) Kami kian suka juga dengan tulisan-tulisan tokoh yang sering dikutip Kanda Sejati; kala itu kami baca dari Majalah Tarbawi misalnya. #ks

44) Satu hari, Kanda Sejati hanya memberitahu kami, bukan mengajak; bahwa akhir pekan nanti KH Rahmat ‘Abdullah akan hadir ke kota kami. #ks

45) Ketika saya & kawan lain memutuskan ikut acara yang bingkainya umum itu; bukan kepartaian; beliau ada di sana. Hanya tersenyum saja. #ks

46) Saat @anismatta, Sekjen PK hadir beracara di Jogja; kami tahu dari pamfletnya. Itu acara Partai; & Kanda Sejati tak mengabari kami. #ks

47) Tapi lagi-lagi; ketika kami hadir ke acara itu dengan niat cari ilmu; Kanda Sejati ada di sana; jadi panitia; & cuma tersenyum pula. #ks

48) Kami lalu berfikir, jika partai ini telah memberi hadiah pada kami berupa sosok sedahsyat Kanda Sejati; betapa bagus pengkaderannya. #ks

49) Kami lalu berfikir; jika di partai ini banyak sosok seperti Kanda Sejati; betapa ia layak untuk menjadi tumpuan masa depan negeri. #ks

50) Partainya Kanda Sejati ini aneh; kegiatannya Tatsqif untuk pembekalan ilmu agama, bakti sosial, berbagai layanan dakwah & keummatan. #ks

51) Kian saya banyak mengenal para kadernya; saya merasa bertemu ratusan sosok semacam Kanda Sejati; meski berbeda karakter khasnya. #ks

52) Orang-orang ini tetap menjadi dirinya; hanya dicelup dengan ‘Tarbiyah’ hingga terbentuk kepribadian Islami & kepribadian dakwahnya. #ks

53) Sejak itu rela hati saya libatkan diri ke aneka kegiatan Partai ini. Dengan alami; tak disuruh Kanda Sejati; saya merasa jadi kader. #ks

54) Bagaimanapun, Kanda Sejati adalah jalan hidayah saya sebakda para Kyai di Ma’had; ia yang mengenalkan dakwah & perjuangan tuk Islam. #ks

55) Maka jalan hidayahnya Kanda Sejati; wadah di mana beliau digembleng, sangat layak jadi pilihan saya tuk ikut berjuang dalam Islam. #ks

56) Kala itu, sedikit-banyak saya telah pula mengenal berbagai jama’ah yang juga berjuang untuk Islam dengan aneka kebaikan pada mereka. #ks

57) Tapi berulang kali menimbang, Partainya Kanda Sejati menjadi pilihan utama saya melabuhkan ‘amal yang tak seberapa; karena cinta;) #ks

58) Mungkin setelah melihat kemantapan saya; satu malam, Kanda Sejati mengajak saya ke sebuah forum bersahaja yang tak asing rasanya. #ks

59) Sama dengan yang saya ikuti dengan beliau sebagai murabbinya; hanya saja, di rumah Ustadz itu rupanya Kanda Sejati jadi ‘mutarabbi’. #ks

60) Akhirnya; di hadapan seorang Ustadz yang teduh, lucu, bijak, & bicara ngapak, saya dikukuhkan sebagai kader Partainya Kanda Sejati;) #ks

61) “Konon memandang gunung itu lebih indah jika dari kejauhan saja”, nasehat beliau malam itu. Bersama waktu, saya menangkap maksudnya. #ks

62) Iya. Kala telah berada di dalam, tentulah saya menemukan ada banyak ketidaksempurnaan. Kanda Sejati & yang lainnya tetaplah manusia. #ks

63) Mereka ada salah & lupa. Tapi semua ketaksempurnaan itu terbayar oleh kebersamaan juang yang berasas kebenaran, kebaikan, keindahan. #ks

64) Sayapun dipindahbinakan beberapa kali, aneka watak Murabbi saya akrabi, tapi semua adalah ‘Kanda Sejati’. Amat banyak Kanda Sejati. #ks

65) Meski banyak pula empedunya, madu sebelanga yang ada di Partai Kanda Sejati tak habis-habis manisnya. Izinkan menyebut sebagiannya. #ks

66) Tertugas jadi relawan ke daerah bencana; Kanda Sejati telah mengatur agar para istri sekelompok binaan membantu yang ditinggalkan. #ks

67) Jika perlu membelanjakan; atau mengantar anak ke sekolah sekalian. Kanda Sejati menjadikan kelompok mengaji sebagai keluarga hakiki. #ks

68) Di situ rukun ukhuwah; saling mengenal, saling mengerti, saling menolong, saling menanggung, & berlomba mendahulukan hajat saudara. #ks

69) Salah satu Kanda Sejati; saat itu menjabat Wakil Ketua DPRD & setia dengan motor tuanya; membimbing kami memahami dakwah bernegara. #ks

70) Bahwa kita bercita mewujudkan Maqashidusy Syari’ah, yang dharuriyatnya telah diambil sebagai dasar negara oleh para Bapak Bangsa. #ks

71) Mereka merumuskan pancasila; Menjaga Agama dengan ketuhanan esa; Menjaga Jiwa dengan kemanusiaan; Menjaga Turunan dengan persatuan.. #ks

72) ..Menjaga Akal dengan hikmat kebijaksanaan, serta Menjaga Hak Milik Insan dengan keadilan sosial. Kini tugas kita tuk mewujudkannya. #ks

73) Dan kami jadi saksi, selama menjabat dengan bersahaja; beliau perjuangkan kebijakan & penganggaran pada kesemua tujuan syari’at itu. #ks

74) Menjadi kader Partai Kanda Sejati juga membuat saya banyak mengunjungi kegiatannya di sudut negeri; menatap benih kebajikan tumbuh. #ks

75) Dalam tema ‘Pengarus-utamaan Keluarga’, saya jadi saksi betapa Partainya Kanda Sejati amat memikirkan pondasi masa depan negeri ini. #ks

76) Demi generasi; mereka selenggarakan pembekalan pranikah, pelatihan kompetensi suami-istri; hingga keibu-ayahan, & pendidikan anak. #ks

77) Di sela-sela tugas daerah itu; saya sowan berkunjung pada banyak Kanda Sejati; menyimak & takjub, bangga & syahdu, menangis & haru. #ks

78) Bahwa para Kanda Sejati seperti pernah ditulis Yunda @helvy & rekan ‘Bukan di Negeri Dongeng’; masih terus ada & tak henti berbakti. #ks

79) Jika media kurang tertarik meliput bakti mereka; sebab mungkin bagi yang banyak kebaikannya, keburukanlah yang mencolok jadi berita. #ks

80) Dan citra buruk yang kian tertampil di hari-hari ini dengan izin Allah; moga tetap tanda cintaNya; lecut baginya tuk terus berbenah. #ks

81) Sebab kita semua percaya, dakwah Kanda Sejati ini milik Allah; Dia yang akan menjagaNya; Dia yang akan memilih & memilah tentaraNya. #ks

82) Seperti pasukan Thalut; akan tiba masa yang ‘minum dengan lahap’ dipinggirkan Allah dari perjuangan. Tamak itu melahirkan kelemahan. #ks

83) Yang akan teguh adalah mereka yang berkeyakinan; “Amat banyak kelompok sedikit mengalahkan golongan yang banyak, dengan izin Allah.” #ks

84) Moga kita dijaga tuk selalu mengimani; bahwa kejujuran & keadilan jauh lebih mampu mengundang pertolongan Allah dari harta & kuasa. #ks

85) Ini mula-mula yang harus dididikkan Partainya Kanda Sejati pada saya & semua kader lainnya; “Hiya liLlah, la lilkursi wa la liljah!” #ks

86) Agar kami senantiasa tak cuma berpatokan perilaku benar & halal; melainkan juga bersikap & bergaya yang patut, mulia, lagi terpuji. #ks

87) Inilah pula jadi kewajiban Partainya Kanda Sejati tuk dididikkan pada rakyat; jadi warga sejati; tak mudah dibeli berujung dikibuli. #ks

88) Pula harus ditanamkan oleh Partainya Kanda Sejati; seluruh warga bangsa berhak atas rahmat dakwah, & kaum muslimin raih mahabbahnya. #ks

89) Dengan tetap bernasehat; cinta pertama tetap menambat saya. BismiLlah, 9 April nanti insyaaLlah #SayaPilihPKS; Partai Kanda Sejati. #ks

90) Mungkin di antara Shalih(in+at) ada yang kecewa mengapa saya berkampanye begini. Maafkan kami, hidup sering mengharuskan memilih. #ks

91) Ini barangkali hanya tahadduts binni’mah; mengkhabarkan kenikmatan yang saya rasakan; yang saya ingin jua semua sempat merasakannya. #ks

92) Semoga termasuk tanda iman; saya mencintai & mengharapkan untuk saudara-saudara saya, apa yang saya cintai untuk diri saya sendiri. #ks

93) Betapa saya amat bersyukur, dipertemukan dengan Para Kanda Sejati; ingin sebersyukur Gurunda @felixsiauw yang lalu berjuang di HTI;) #ks

94) Sesiapa yang jadi jalan hidayah kita, tetaplah anugrah Allah yang takkan begitu saja kita kesampingkan dari doa, kata, & ‘amal kita. #ks

95) Maka saya khabarkan tentang mereka; Para Kanda Sejati saya dalam Islam; yang secara politik berhimpun membawa Cinta, Kerja, Harmoni. #ks

96) Kalaupun ada di antara mereka yang telanjur cacat di mata Shalih(in+at); moga masih ada nama lain yang layak tuk diprasangkabaiki;) #ks

97) Masih banyak insyaaLlah Kanda Sejati yang ingin berbakti pada Shalih(in+at) & negeri ini; “Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Melayani”. #ks

98) Akhirnya; maafkan Salim yang lancang berbagi dengan kebodohan & kelemahannya ini; doakan selalu dia mampu mempertanggungjawabkannya. #ks

99) Tamat pernyataan ini; dari hamba Allah yang tertawan dosanya, santri tertahan kejahilannya, & jauh dari citanya jadi ‘Kanda Sejati’. #ks

Mengayuh asa. Mengepal tangan di udara. Menatap langit bertabur bintang gemintang.
— Ferdian N

"Emang kalau Tarbiyah harus pilih PKS, Kak?"

johanriopamungkas:

Hari ini saya berbahagia sekali, semoga semakin banyak saudara-saudari yang menulis seperti yang ditunjukkan Akhukum Fillah bigzaman :)

bigzaman:

Sebuah pertanyaan menarik dari sebuah grup WA malam kemarin dari seorang teman, membuat grup tersebut cukup dinamis semalam dan cukup panjang pembahasannya. Dan akhirnya pertanyaan ini pun mengusik pikiran saya. Sebagai seorang simpatisan sejati #azeeeg , pertanyaan ini membuat saya termenung beberapa saat, lalu mereka-reka ulang, mengingat-ingat kembali saat-saat ketika…saya terlintas pertanyaan yang sama! :)

Yap, memang sudah menjadi rahasia umum ada sesuatu di antara keduanya. Ada sesuatu yang mengkaitkan mereka. Tarbiyah dan PKS. Liqo-liqoan dengan PKS. Semakin lama saya cermati, dari saya masih menjadi peserta pengajian saja hingga menjadi mentor dan murrobbi, akhirnya saya semakin menyadari bahwa teman-teman sesama aktifis, kemudian senior-senior yang membimbing kami selama ini, terlihat jelas afiliasinya mendukung penuh kerja-kerja dari partai yang satu ini. Setiap ikut acara munasaroh Palestina hingga agenda kampanye-kampanye partai ini, orang-orang yang saya kenal betul adalah ‘orang baik’ pun ramai-ramai mengikutinya. Ya, tentu saja kita punya ujung pikiran yang sama. Kesel :p

Apaan sih PKS?

Kenapa sih harus partai-partaian segala?

Kenapa tarbiyah harus ikut-ikutan terlibat dengan politik yang di Indonesia kini sudah hampir tidak ada harapan lagi..

Pikir saya kala itu. Namun pada akhirnya memang kita harus memilih, karena hidup adalah rangkaian dari pilihan-pilihan yang kita pilih sendiri bukan? 

Saya pun mulai merenung apa saja pilihan-pilihan mendasar yang telah saya ambil terkait hal ini, randomly mungkin alurnya seperti ini. 

1. Sebagai seorang manusia, saya dihadapkan dengan pilihan yang paling mendasar, mau menjadi manusia yang percaya dengan agama atau tidak sama sekali? Di titik ini, saya masih yakin bahwa saya masih ingin menjadi seorang yang beragama.

2. Ketika memutuskan untuk beragama, saya mendapati beberapa pilihan agama dan dari sekian banyak pilihan agama, saya yakin memilih Islam sebagai agama yang saya yakini.

3. Menjadi seorang muslim pun dihadapkan pada pilihan, mau menjadi muslim yang biasa-biasa aja (sholat, puasa, ngaji, dll sekedarnya) alias pasifis atau memilih menjadi aktifis yang memiliki ranah amal yang luas serta insya Allah lebih besar pahalanya di sisi Allah? Saya memilih menjadi aktifis.

4. Kalau jadi aktifis, mau jadi aktifis yang dakwahnya sendirian atau berjama’ah? Tentu lebih menguatkan dan berkah berada di dalam jama’ah.

5. Nah..ini baru mulai sulit..dari sekian banyak pilihan jama’ah, yang mana yang mau dipilih? Setelah menimbang dan banyak membandingkan cara dakwah masing-masing jama’ah, saya merasa paling pas *sekali lagi paling pas bukan yang paling benar* dengan karakter saya adalah jama’ah Tarbiyah.

6. Setelah sekian lama berada di jama’ah tarbiyah, ngeliat kok ada yang berpartai-partai bergitu..Di titik ini, saya menanyakan hal yang sama dengan judul tulisan ini! Yap, pada akhirnya akan muncul pilihan selanjutnya, menerima tarbiyah sekaligus dengan konsep kepartaiannya atau tarbiyah-tarbiyah aja nggak usah partai-partaian?

Naah, sampai disini uda mulai susah pertanyaannya..hehe. :D Gak semudah pertanyaan sebelumnya. Okey, pertanyaannya mungkin butuh sedikit dipermudah.

Kalau secara umum, kita mengakui tarbiyah baik, kenapa di titik yang sensitif ini (politik),tarbiyah memutuskan untuk berpartai? Kenapa nggak jadi lembaga dakwah yang konsisten pada pembinaan umat saja seperti Daarut Tauhid nya Aa Gym misalnya, PPPA nya Ustadz Yusuf Mansur yang fokus membibit penghafal Al Qur’an, atau bahkan Majelis Rasulullah yang setiap pengajian selalu penuh dan padat dengan jama’ah..kenapa tarbiyah harus masuk dalam politik?

Akhirnya harus cari tau kan? 

Mulailah bergerilya, tanya-tanya, diskusi-diskusi, baca-baca buku…dan akhirnya nemu beberapa kesimpulan besar.

- Ooh iya ya..jadi inget konsep Syumuliyatul Islam yang dulu diajarkan pertama kali di liqo, Islam itu ajaran yang menyeluruh, termasuk bila politik adalah hal yang sangat krusial bagi umat dan selalu kita hadapi (secara hampir tiap berapa tahun ada Pileg lah, Pilpres, Pilgub, Pilwakot, dsb), maka sangat tidak mungkin bila ajaran agama ini tidak masuk ke ranah tersebut

- Ooh..ternyata memang dari dulu disadari ini adalah pilihan yang berat..tapi memang harus dijalani karena yang kami yakini ustadziyatul ‘alam adalah amanah yang Allah berikan, karena Islam tertegak kembali di muka bumi ini adalah suatu keniscayaan..Dan partai adalah salah satu bentuk ikhtiarnya.

- Ooh..ternyata dulu pun banyak orang-orang yang nggak setuju kayak saya, sampai-sampai akhirnya keputusan berpartai atau tidak pun harus diputuskan melalui voting, katanya sih begitu.

- Daaan #jengjengjeng..akhirnya diputusin juga untuk harus berpartai.

Sampai di state ini pun masih meragu, masih ada yang belum mantap di hati.. #ceilah #udahKayakMilihJodohAja :D

Istafti fii qolbak’, atau mintalah fatwa kepada hatimu. Begitulah nasihat para tabi’in dan ulama kepada siapapun yang berada dalam keraguan, apabila tidak berhasil menemukan jawabannya di literatur-literatur utama Qur’an dan sunnah.

Dengan seuprit pengetahuan dan pemahaman yang saya miliki, berikut akhirnya menjadi beberapa pertimbangan utama saya selanjutnya:

1. Keputusan berpartai ini diputuskan di dalam syuro, yang berisi orang-orang terbaik di jama’ah ini. Dimana syuro pun begitu tinggi dijunjung nilainya oleh jama’ah ini, sesuai dengan yang kami yakini bahwa Allah akan selalu bersama ‘tangan-tangan’ jama’ah. Maka, siapakah saya yang ngerasa pinter dan benar membuat keputusan seenak sendiri? 

2. Berbekal informasi yang saya ketahui selama berada di jama’ah ini hingga hari ini, kedekatan-kedekatan dengan beberapa ‘pejuang’ yang saya kenal betul yang kini berjuang didalamnya, serta gencarnya musuh-musuh Islam dalam setiap upaya-upaya kebenaran kini, semakin meyakinkan bahwa keputusan ini memang benar harus diambil dan didukung

Dan..#jengjengjeng, akhirnya setelah berkontemplasi sedemikian panjang..yap, akhirnya fiks saya memilih nomor 3! :D

Saya selalu berdoa kepada Allah untuk diberikan petunjuk agar selalu berada di jalan kebenaran..Pun saya selalu berusaha meluruskan niat ketika berjuang di partai ini:

1. Saya berpartai sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan ikhtiar bersama orang-orang yang bersama-sama mencintai Allah untuk menegakkan kalimatulloh di bumi ini.

2. Dengan berpartai PKS, bukan berarti partai yang lain buruk, bukan berarti jama’ah yang lain buruk..karena sejatinya yang Allah nilai kelak bukanlah apa partai dan jama’ah kita, melainkan nilai dari setiap amal pribadi kita, di jama’ah apapun, di partai manapun..Karena yang akan dihisab kelak adalah ‘liyabluwakum ayyukum ahsanu amala’, yakni siapa-siapa sajakah yang memiliki amalan-amalan terbaik, siapa-siapa sajakah yang memiliki prestasi dan karya terbaik untuk Allah..

“Sebanyak apapun Ormas kita buat, sekuat apapun Ormas kita buat, semaksimal apapun gerakan ormas dalam masyarakat, tetap saja yg diijinkan membuat undang-undang adalah DPR yg diisi perwakilan dr parpol, bukan Ormas. Maka hukum sebagai dampak dari proses politik ini mengatur semua tata aturan hidup berbangsa dan bernegara ini dilahirkan dari Parpol. Jadi kalau kita ingin merubah undang-undang menjadi lebih islami, itu dihasilkan oleh Parpol, bukan oleh yang lain. mau bagaimanapun, ini kenyataan hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia..” (Abu Syauqi, founder Rumah Zakat)

"Independen bukanlah kebaikan atau kebanggaan, bersama kebenaran itu baru kebaikan..” (Bang Banu Muhammad)

"Akumulasi orang-orang baik, berani mengambil resiko, yang bersatu, kemudian bertemu momentum itulah, kemudian kita sebut dengan kemenangan. Kemenangan bersama. Because, the winner never stands alone.” (Scientia Afifah)

Yap, just a thought, sebuah pikiran yang terlintas begitu saja. Saya pun menulis ini bukan sebagai juru bicara PKS, jadi ini pure opini pribadi yang tidak mewakili sesuatu apapun. :D

Setuju tidak setuju memang pilihan masing-masing, yang terpenting, tetap konsisten diri untuk terus beramal dan beramal! :)

Depok, 31 Maret 2014

Di tengah hiruk pikuknya masa kampanye di timeline facebooktwitter, tumblr, dsb :D

Big

Akuh Pilih 3!

johanriopamungkas:

Hal yang membuat saya tersenyum pagi ini :) terima kasih saran pembangunan dan kritikan atau mungkin “cacian” sensitif kulit bayinya untuk tulisan ini ya isnidalimunthe (y)

isnidalimunthe:

Pemilu makin dekat. Sebagai orang yang mencoba menjadi warga negara yang baik, gw pun agak-agak sok aktif berpartisipasi di pesta rakyat ini meskipun perannya yang paling figuran: “menyontreng

Mungkin sudah pada tahu kalau I used to be PDIP garis keras, hahaha. Kenapa? Karena menurutku PDIP adalah partai yang paling konsisten sejak dulu kala. Pro Wong Cilik! Dan di daerah, ke-pro-wong-cilik-annya mengakar dan kerasa sih. Setidaknya di daerah asal aku demikian adanya. 

Gw juga merasa diantara calon presiden nanti, Jokowi lah yang paling mending. Anies Baswedan bisa maju jadi calon? Hmmmm, syulit itu cyyyn karena politik terlalu sepolitik itu loh untuk bisa menjegal Anies Baswedan, hehe. But, we’ll see lah. Lesson learned, mau ga mau kita emang musti akrab sama parpol sejak usia muda, biar kalau mau maju, punya partai pendukung, hehehe. :”>

Pak JK juga bagus. Kalau pak JK maju. Aku pilih JK daripada Jokowi. We’ll see juga yaaah. :”D

Tapi, walau suka sama konsistensi PDIP, sepertinya gw ga akan pilih PDIP di pemilu ini. Alasannya karena kasus korupsi yang menjerat partai mereka. Walau pun kalau mau jujur-jujuran, partai lain juga korupsinya segitu juga sih yah, hanya saja ga ketangkep radar. :p Kader PDIP juga banyak yang perform. Mba Oneng salah satunya. Dan somehow pingin seperti Mba Oneng suatu saat nanti. \=D/

Partai yang paling bersih mungkin si partai nomer 3, PKS kali yah. Kalau kata babang Akhyar, secara distribusi normal, kader PKS itu bersih, dan ga ada niatan buat menipu. Ya, walau memang harus diakui masih kurang kompeten. Tapi, milih yang lurus tapi kurang kompeten lebih baik daripada milih yang kompeten tapi tipu-tipu. Hahaha, bagi gw ga gitu juga sih. Karena menurut gw partai lain juga ga ada niatan menipu kita.

Duh, gw masih belum bisa move on dari PDIP, haha. Tapi, gw memutuskan untuk pilih PKS. Alasannya sesimpel: “biar gampang mempertanggungjawabkannya di akhirat.” Ibarat sebelum ada bank syariah, maka mempertanggungjawabkan di akhirat tentang alasan kita nabung di bank konvensional itu lebih mudah, tinggal bilang, “karena belum ada opsi bank syariah saat itu.” Tapi, sekarang ketika telah ada bank syariah, maka mempertanggungjawabkan di akhirat tentang kenapa kita nabung di bank konvensional ketika telah ada opsi bank syariah, itu lebih sulit kan mempertanggungjawabkannya. Walau dalam praktiknya bank syariah juga ga sepenuhnya syariah, tapi syariah 20persen lebih baik kan daripada ga syariah sama sekali? :D

Jadi, ibarat bank konvensional dan bank syariah, gitu juga kayanya kurang lebih pertanggungjawaban atas pilihan politik kita nanti. Mempertanggungjawabkan kenapa pilih PDIP di akhirat nanti akan lebih sulit ketika sudah ada pilihan PKS. Walaupun sama seperti bank syariah yang kadang layanannya masih jauh dari sempurna, ATM-nya belum sebanyak ATM bank konvensional yang sudah lama berdiri, tapi tetap aja kan kita bertahan pilih bank syariah dengan segala kelemotannya? Same thing happens to PKS. :”D

Tapi, plis PKS. Lo terus lah bertransformasi jadi lebih baik, biar gw ga milih karena alasan ikatan batin dan pertanggungjawaban di akhirat doang, haha. Dan cepat jadi partai besar, biar ga cuma jadi penentu koalisi. *gabut gitu gw cuma ko men doang, haha*

Walau nanti lo mungkin bakal ngegabung or koalisi sama Golkar (let sayyang notabene partai yang juga banyak korupsinya, tapi balik lagi, syariah 20persen lebih baik daripada ga syariah sama sekali kan? Haha.

Dan plis juga bilangin ke simpatisan-simpatisan lo, jangan kayak kulit bayi, suka sensitif kalau misalnya dikomentarin dan langsung sok jadi korban offense. Seolah yang komentarin kurang kerjaan padahal maksudnya mau kasih masukan demi lo yang lebih baik. 

Maaf semi curcol, hahaha. Despite of everything, di 9 April ini InsyaAllah saya pilih 3! Selamat berpesta, rakyat Indonesia! \=D/

BerSEMANGAT!!

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
— Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah

Karena Allah

Aku berharap, agar tiap kita yang memprakarsakan diri untuk maju berangkat berjuang; niatnya ikhlas, mengharap ridhanya Allah semata. Bukan pamrih yang bukan pada tempatnya, bukan untuk gaya-gayaan, mencari ketenaran atau.. sekedar dikatakan, “Kamu hebat ya.” Mari kawan terus saling mengingatkan dan menelisik diri, barangkali masih ada setitik (atau bahkan banyak) debu hitam yang terselip dalam hati.

Surah Ar-Rahman (Arab: الرّحْمنن) adalah surah ke-55 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surat makkiyah, terdiri atas 78 ayat. Dinamakan Ar-Rahmaan yang berarti Yang Maha Pemurah berasal dari kata Ar-Rahman yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Ar-Rahman adalah salah satu dari nama-nama Allah. Sebagian besar dari surah ini menerangkan kepemurahan Allah SWT. kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Ciri khas surah ini adalah kalimat berulang 31 kali Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?) yang terletak di akhir setiap ayat yang menjelaskan nikmat Allah yang diberikan kepada manusia.

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Ar-Rahman