Try!

Try!

Finish what you start.

Finish what you start.

Source: the114

Rindukah kamu berjumpa dengan Dia?
theanimalblog:

Deer. Photo by Raphael

theanimalblog:

Deer. Photo by Raphael

cjwho:

outside-in: the infinite garden by meir lobaton corona + ulli heckmann

all images © fabio ferrario


the ‘outside-in’ garden by architects meir lobaton corona and ulli heckmann, is conceived as a visual paradox for the 22nd international garden festival of chaumont sur loire, france - a device that enhances conditions in order to make the audience realize how by relying only on sight, they rely on imagination.
the intervention provides a sense of how vision can become a shield that precludes the possibility of having a holistic experience of life - one that involves the entire body and that extends beyond it.

Source: cjwho

Menggunakan sistem operasi Linux mungkin bagi sebagian orang akan terasa sulit atau kurang begitu menarik. Namun ada alasan lebih dari itu buatku ingin lebih lama di sini. Aku ingin “Merdeka!”

Kado di Musim Hujan (Cerpen)

alfisyahriyani:

Musim hujan. Tardi berlari-lari kecil sambil menutupi kepalanya dengan tangan. Hari itu ia lupa membawa payung lagi. Istrinya yang biasa mengingatkannya hanya memasang raut muka tak enak sejak tadi pagi. Pada saat jam pulang kantor begini, dengan hati yang rintik-rintik, Tardi berharap Minah sudah membaik dan bersedia membuatkannya secangkir teh hangat.

Tapi perkiraan Tardi meleset. Minah masih kesal saat Tardi sampai di rumah. Wajahnya ditekuk seharian. Dari pagi sampai malam ia sungguh membuat Tardi bingung. Biasanya pagi-pagi sekali Minah sudah menyiapkan kopi hangat dan pisang goreng, malamnya ia pasti menyediakan teh hangat dan nasi goreng. Tapi kali ini, ia hanya merebahkan dirinya di ranjang. Tadinya Tardi pikir istrinya kelelahan karena semalaman ia membantu orang hajatan di kampung. Tardi maklum, maka pagi tadi ia tak bertanya lebih jauh. Toh waktu itu ia harus cepat-cepat berangkat ke kantor. Pekerjaannya sebagai Office Boy di gedung pencakar langit membuat ia harus datang lebih awal dari para karyawan.

Tapi sayang, saat ia kembali ke rumah, ia masih mendapati istrinya tak bergeming. Dari luar kamar, di antara tirai pintu yang lusuh dan sudah robek di sana sini, Tardi bisa melihat istrinya dengan jelas. Ia sungguh, sedang tidak seperti biasanya.

“Kamu sakit, to?” Tardi bertanya hati-hati sekali.

Minah diam seribu bahasa. Hanya gerak bibirnya saja yang dapat Tardi baca. Ia menggerutu.

“Minah, sekarang Mas belum gajian, masih juga tanggal 20. Ntar aku…”

“Udah ah, aku capek nih!” Minah menyambar. Ketus.

“Lha, aku kan udah apal lagumu itu, Nah. Kamu tuh seneng kalau aku gajian, yah toh?”

“Emangnya aku makan dari gaji Mas doank apa?”

“Yah, kamu makan cinta dari aku sering kan. Hehe. Ayo lah….malam ini donk, sekali aja, ya ya?” Tardi mengerling. Sayangnya, Minah membuang muka. Gombalan Tardi tak berhasil. Sungguh kali ini Tardi bingung. Ada apa dengan istrinya?

Minah sudah terlebih dahulu tertidur ketika Tardi menyusul merebahkan dirinya di ranjang. Ia mengingat-ngingat dosa apa yang telah ia perbuat sehingga sang istri mogok bekerja. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan paling dasar.

“Gajian masih minggu depan kan, Nah. Ayolah…” katanya kepada Minah yang sudah terlelap di sampingnya. “Kamu pura-pura tidur aja kan, Nah. Ayolah, sekarang ini kan masih tanggal……” Tardi mengingat-ingat, “Astaga!” Ia terbangun dan menepuk jidatnya sendiri. Teringat minggu lalu saat Minah sedang nonton sinetron dan berkata kepada dirinya, “Mas, kemarin Jupri ngajak istrinya yang lagi ulangtahun nonton apa yah itu pelem yang lagi bagus di bioskop. Habi…Habibah-Airin kali! Duh, aku mau donk, Mas”

“Nah, bangun, Nah…aku ingat ini hari apa, Nah!” Tardi mengguncang-guncang bahu Minah. Ia gusar, tapi sayangnya, seruan Tardi hanya disambut suara dengkuran Minah yang terdengar makin nyaring.

****

Esok harinya, demi menebus dosanya yang lupa akan perayaan ulangtahun istrinya kemarin, ia berpikir keras bagaimana caranya agar bisa membahagiakan Minah tanpa perlu datang ke bioskop. Toh, ia tidak paham caranya dan sayang juga kalau hanya menghabiskan malam minggu dengan nonton. “TV di rumah masih jelas lah. Lagian daripada nonton Habibah-Airin, mendingan juga nonton bola” hiburnya dalam hati, sambil membayangkan omelan anaknya yang kemarin minta TV baru karena semutnya sudah terlalu banyak. Pagi-pagi sekali ia meninggalkan secarik kertas di atas meja ruang tamu untuk Minah. Siangnya, ia sengaja keluar sebentar dari kantor, melewati terowongan yang menghubungkan gedung perkantoran dan mall.

Diliriknya barang-barang di sana. Harganya membuat isi kantong Tardi seperti mendadak membuat formasi pertahanan 9-0-1 ala parkir bus Chelsea. Dalam bayangannya kini, mall berubah menjadi padang rumput yang luas. Jantungnya seketika berdegup kencang. Kepalanya pusing. Lututnya lemas sekali begitu melihat price tag barang yang bahkan gaji sebulan Tardi pun tidak cukup untuk membelinya. Isi kantong Tardi tiba-tiba saja membentuk dinding pertahanan. “Heh, Tardi, ngapain kamu beli barang orang-orang kaya di sini. Mereka yang cuma menghargai kamu kurang dari UMR!” lembaran uang berwarna hijau berubah menjadi wajah John Terry.

“Ingat, Di, bulan depan anakmu itu mau sekolah, pentingkan itu saja dulu lah”  kali ini muncul Gary Cahill yang membawa segepok lembaran berwarna biru.

Tapi di sisi lain, batinnya menyerang tak karuan, “Kapan lagi kamu ngasih sesuatu buat istri kamu, Di? Jupri aja bisa bawa istrinya ke bioskop. Entar istrimu mogok lagi, kamu yang pusing. Ayo beli aja!” Tardi bingung, suara Leonell Messikah tadi?

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya gemas, lalu menepikan diri ke skywalk. Ada diskon besar-besaran di sana, tapi tetap saja harganya masih melangit. Ada yang membisik-bisik Tardi lagi, “Udah, balik aja lah ke kantor. Masih banyak kerjaan!” Barislav Ivanovic hadir dengan membawa alat pel di tangan. Sempurna, membuat Tardi bertahan dan membalikkan badan. Ia mengucapkan hamdallah berkali-kali. Mall ini memang bukan tempatnya. Tempat dia hanya di basement. Ya, hanya di basement. Tapi begitu ia jalan ke luar mall, tahu-tahu saja seorang perempuan menyemprotkan parfum sembarangan ke arahnya. Ia terkejut. Seperti mendapat tendangan Robie Van Persie yang menukik, taktik pertahanan parkir bus ala Tardi pun jebol. Dua lembar uang kertas merah melayang bebas.

****

Dilihatnya parfum itu lama sekali saat ia sampai ke ruangan tempat OB berkumpul di basement. Dipikir-pikir buat apa juga ia beli parfum, toh istrinya sama sekali tidak suka berdandan. Kenapa juga ia bisa begitu saja terpikat akan wanginya sampai tidak berpikir panjang. “Ya mau bagaimana lagi, sudah terlanjur. Semoga Minah senang” katanya menghibur diri.

Tardi lalu ke mini market di basement kantor untuk membeli kertas kado. Rapi sudah kadonya kini. Ia senyum sumringah, membayangkan Minah memeluk dirinya sambil berkata, “Terimakasih ya, Mas”. Masih senyum-senyum sendiri, Tardi mengambil alat pel di toilet. Diajaknya alat pel itu mengobrol. Ia hendak berlatih bagaimana caranya agar ia tidak canggung memberikan kado. Maklum, sudah lama juga ia tidak bermesra-mesra seperti ini. Apalagi delapan tahun rumah tangga yang penuh lika-liku membuat bunga-bunga di antara keduanya layu, tergantikan dengan pertanyaan, “Besok, si Fajri dan si Ida makan apa ya?”

“Kado ini dipersembahkan untukmu, Dinda. Di tengah curahan hujan badai dan curahan air mata dan curahan penyesalan karena kealpaanku akan tanggal ulangtahunmu” ujar Tardi di depan alat pel. Tapi Tardi tidak sadar, sedaritadi ada karyawan kantor yang mematung di belakangnya. Karyawan itu bingung dan tidak bisa melewati toilet karena pintu terhalangi drama Tardi dan alat pel. Begitu Tardi sadar, sang karyawan masuk ke dalam lalu tersenyum dan geleng-geleng kepala.

Tardi menyudahi hobi berimajinasinya. Antara malu dan prihatin, ia teruskan pekerjaannya, membersihkan toilet kantor dengan serius. Sungguh baru kali ini ia membelikan hadiah ulang tahun untuk istrinya. Dengan sumringah, ia bersihkan sudut kanan, sudut kiri, tengah, dan belakang sambil sesekali bersiul. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Hampir semua pegawai kantor sudah pergi dan hanya ada satpam di sana. Ia menekan tombol lift untuk naik ke lantai dasar. Waktunya pulang. Tapi tunggu, sifat pelupa Tardi kumat lagi!

Tardi berlari ke belakang untuk mengambil kadonya. Ia menekan tombol lift lagi untuk turun ke basement. Sementara itu, di luar gedung, hujan turun dengan derasnya, petir menyambar-nyambar membuat para karyawan yang berada di jalanan Jakarta begitu cemas. Air kini sudah mencapai mata kaki. Hujan terus turun tanpa ampun, semakin deras dan membuat air pancur bundaran HI lebih tepat disebut kali.

Di loker basement, Tardi melihat sebuah kado kecil yang tertinggal. Ia ambil kado itu lalu keluar dari ruangan. Begitu hendak menekan tombol lift, tahu-tahu saja ada sesuatu yang mengganggu langkahnya. Sesuatu yang masuk ke celah-celah gedung dan membuat lantai menjadi becek. Ia menunduk dan menelusuri genangan air itu dengan seksama. Namun, baru saja Tardi mendongakkan kepala, tiba-tiba saja dengan garangnya air bah menghantam dinding-dinding basement seperti ombak di lautan. Air bah tersebut menyapu ruangan basement dengan keras. Tardi terkesiap. Ia hendak berlari. Tapi sayang, air bah berlari lebih cepat.

****

            Minah masih memandangi jemurannya. Tidak kering-kering juga. Ia kesal sekaligus cemas karena hanya itulah satu-satunya baju yang bisa ia pakai untuk hajatan saudaranya di kampung. Malam makin larut, dan Minah semakin cemas saja karena Tardi tidak kunjung pulang. Ia menyesal karena seharian kemarin mendiamkan Tardi hanya gara-gara jemuran yang tak kering-kering. Sementara itu, TV di rumah Minah terus menyala, menyiarkan banjir di Jakarta yang semakin tidak terkendali. Seorang lelaki dikabarkan tewas karena terjebak banjir di basement.

Berkali-kali Minah melihat ke luar jendela. Hanya ada suara hujan dan tidak ada kecipak kaki-kaki Tardi yang biasanya terdengar. Nasi goreng sudah disediakannya di atas meja. HP Tardi sedaritadi tak bisa dihubungi. Ia merenung di ruang tamu dan bertanya-tanya dalam hati. Sampai dilihatnya secarik kertas di atas meja yang baru saja disadarinya. Sebuah tulisan yang membuatnya terpaku cukup lama, “Selamat ulang tahun, Dik Minah Sayang. Semoga kelak Mas Tardi bisa belikan mesin cuci”

Minah tertawa kecil. Sifat Tardi yang pelupa tidak berubah juga. Ulang tahun Minah masih tiga minggu lagi.

Mengharukan sekali…

Source: alfisyahriyani

fathizaki:

penting nih..

fathizaki:

penting nih..

fathizaki:

Harus tahu apa yang disukai anak kalau begitu… #angguk-angguk

fathizaki:

Harus tahu apa yang disukai anak kalau begitu… #angguk-angguk

Kita tidak perlu mengharapkan tepuk tangan dan pertemanan yang bersekongkol, lebih baik kita sendiri di jalan yang terang.

-

Rantau 1 Muara - A. Fuadi (via kurniawangunadi)

Sunnatullah, Islam memang akan kembali asing. Maka beruntunglah mereka yang tetap asing; yaitu yang mencoba teguh membersamai kebenaran, di saat kebanyakan orang telah rusak. Allaahul muwaffiq.

(via laninalathifa)

Source: kurniawangunadi

laninalathifa:

This is Syria.

laninalathifa:

This is Syria.

Source: u-promised-me-forever

Source: palsyria

Hebat?

laninalathifa:

IMAM HASAN AL-BASHRI (radhiyallaahun ‘anhu) suatu saat pagi disapa seseorang,

”Apa kabarmu pagi ini?”

Hasan Al Bashri pun menjawab, ”Baik”.

Kemudian orang itu kembali bertanya, ”Bagaimana keadaanmu?”

Imam Hasan Al-Bashri pun menjawab,

”Engkau bertanya mengenai keadaanku? Bagaimana menurutmu dengan manusia yang sedang naik perahu hingga tengah lautan, kemudian perahu itu pecah. Hingga mereka terombang-ambing dengan berpegangan pada kayu-kayunya dengan kecemasan. Bagaimana keadaan mereka saat itu?”

Orang itu pun menjawab, ”Keadaan mereka sungguh mencemaskan”. 

Imam Hasan Al Bashri pun menyatakan,”Keadaanku lebih parah daripada mereka”. (Ihya Ulumuddin, 4/201)

Demikianlah ulama terdahulu, meski mereka (insyaAllaah) tergolong manusia-manusia yang shalih, namun sedikitpun mereka tidak pernah merasa hebat dengan keshalihannya, bahkan memiliki rasa takut yang sangat besar kepada Allah.

Kemudian bagaimana dengan kita? Dimana posisi kita? Jika kita belum tergolong manusia shalih, pantaskah kita merasa hebat? Pantaskah? Terus berbenah, penilaian itu prerogatif Allah, itu saja. :)

Untuk (Calon) Orang Tua & Abang-Kakak: Kiat Mencegah Tindakan Destruktif Anak #cegah

asaindonesia:

Sekarang, kiat praktis mencegah tindakan destruktif anak untuk (calon) orang tua. Buat kakak dan abang, juga penting untuk tahu. Kan kita yang lebih dekat ke adik kita? :)

1. Mulailah perbaikan dari diri kita sendiri. Buang jauh-jauh kebiasaan buruk dari rumah. Ajari tutur & bahasa tubuh yang baik.

2. Mari tanamkan pendidikan agama pada anggota keluarga sejak dini. Bukan tata cara aktivitas ritual semata, tapi juga maknanya.

3. Kembalikan standar baik-buruk kepada prinsip-prinsip agama. Mulai implementasi nilai & ajaran agama dari dalam rumah.

4. Ajarkan keterbukaan pada tiap anggota keluarga. Jadikan masalah-masalah pribadi sebagai masalah/tanggungan keluarga.

5. Jangan jadi orang tua yang instruktif! Jadilah orang tua yang mau belajar, ikut kelas/kajian ilmu parenting.

6. Jadilah orang tua yang gagah teknologi. Jangan malu untuk ikut workshop pengenalan teknologi, misalnya “internet for parents”

7. Dampingi anak saat memasuki masa aqil baligh (dewasa dalam berfikir). Beri info seputar kesehatan & perkembangan alat reproduksi.

8. Juga ajarkan anak tentang konsekuensi & tanggung jawab, dengan nilai-nilai agama sebagai dasar berpijak.

9. Mari kenali anak sebagai pribadi yang unik. Mereka memang berbeda, jangan disama-samakan, jangan dibanding-bandingkan.

10. Mari belajar memahami perasaan anak dan aktif melibatkan diri dalam berbagai kegiatan anak.

11. Cari tahu apa isi handphone, tas, rak buku, dan kamar anak dengan cara yang “halus”, dan jadikan anak sebagai sahabat curhat. :’)

12. Ajak sekeluarga melakukan diet nonton TV; mulai dari setahun sekali, kemudian meningkat setahun dua kali, hingga seminggu sekali.

13. Maksudnya mengurangi intensitas menonton TV. Misal: memadamkan TV untuk sehari penuh agar punya high quality time dengan keluarga.

14. Cari tahu apa yang diakses anak di dunia maya. Pelajari game apa yang kerap mereka mainkan, apakah game-nya mendidik?

15. Jangan memberi anak televisi dan fasilitas internet di kamar tidur.

16. Tempatkan komputer di ruang keluarga dengan layarnya yang menghadap ke tempat anggota keluarga berlalu lalang (tidak ke dinding).

17. Luangkan waktu rutin rekreasi keluarga dan ajak anak membuat sendiri jadwal hariannya dengan kesibukan positif yang mereka sukai.

18. Laporkan jika melihat pelanggaran hak anak sesuai UU Perlindungan Anak No. 23 tahun 2002, ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

19.  Ini alamat dan nomer telepon KPAI: Jalan Teuku Umar No. 10-12 Jakarta Pusat 10111, Telepon: 021- 319 01446. Fax: 021- 390 0833.

20. Jangan salahkan anak karena kelakuan buruknya, salahkan orang tuanya. Membentuk peradaban yang baik dan kuat dimulai dari rumah.

Source: asaindonesia

Untuk Para (Calon) Guru: Kiat Mencegah Tindakan Destruktif Anak #cegah

asaindonesia:

Kiat mencegah dan mengatasi tindakan destruktif pada anak. Sumbernya tulisan Bunda 3 tahun lalu di website ASA. Udah lama ya? :)

1. Kamu seorang guru? Panutan sekitarmu? Kamu yang jadi teladan anak didikmu? Ya, kamu! Kamu lah yang mereka (anak) amati dan tiru.

2. Jadi guru bukan hanya soal mengajar, tapi juga mendidik karakter. Cara mendidik karakter yang terbaik adalah dengan tindakan nyata

3. Jika kamu masih merokok, masih datang terlambat & menanggapi anak secara parsial (tanpa melibatkan perasaan mereka), ayo berubah!

4. Efektifkan waktu kegiatan pembinaan iman & taqwa di sekolah. Kembalikan (kembali) standar baik-buruk sesuai prinsip agama.

5. Baiknya lebih fokus dalam pembinaan akhlaq. Termasuk hal-hal yang disepelekan seperti konsep muhrim, aurat & pergaulan yang baik.

6. Lakukan razia hp secara berkala pada hari yang acak. 2x sebulan misalnya. Lakukan secara elegan, tidak mempermalukan anak didik.

7. Peraturan-peraturan prinsipil terkait pornografi, merokok, dan tindak kriminal dicantumkan dlm kontrak belajar & disosialisasikan.

8. Penyuluhan berkala sangat penting. Undang para pakar anak dan kepolisian, tunjukkan data & fakta di lapangan!

9. Datang lebih awal untuk menyambut para siswa di gerbang sekolah, agar tahu anak yang sehat dan yang bermasalah, u/ deteksi dini.

10. Membuat kontrak belajar dengan siswa. Ajarkan siswa hak dan kewajiban, serta resiko tegas jika melanggar kontrak belajar.

11. Dampingi murid dalam setiap aktivitas ekstra-kurikuler baik yang berlokasi di lingkungan sekolah, apalagi di luar sekolah.

12. Pastikan sebelum pulang, kelas sudah terkunci. Banyak kasus seks bebas/video porno pelajar terjadi di kelas setelah dibubarkan.

13. Membiasakan sholat wajib berjamaah di sekolah. Misalnya sholat Zhuhur bejamaah sebelum pulang sekolah/kelas sore dimulai.

14. Pastikan akses internet di sekolah aman dari bahaya pornografi. Beri peringatan bahaya pornografi sejak dini.

15. Perbanyak kegiatan ekskul berupa aktivitas fisik untuk menyalurkan energi siswa yang melimpah.

16. Membentuk dan mengaktifkan kelompok mentoring agar kakak kelas punya tanggung jawab terhadap adik-adik kelas.

17. Sharing dengan orang tua dalam pertemuan berkala, dan bahu-membahu melakukan berbagai tindakan preventif.

18. Mengingatkan orang tua untuk lebih peka terhadap tumbuh kembang dan perilaku anak di rumah.

19. Terakhir, ajarkan anak media literasi, agar anak bisa memilah-milah sumber dan kritis dalam bercengkrama dengan kemudahan media.

Source: asaindonesia

"By the night when it covers. And the day when it appears. And He who created the male and female. Indeed, your efforts are diverse. As for he who gives and fears Allah. And believes in the best. We will ease him toward ease." The Night [92] : 1-7


Ask me anything Submit