Maju Tetapi Mundur

Boleh jadi masa depan anak-cucu kita kelak akan merasakan kecukupan akan sandang, pangan dan papan; menikmati berbagai fasilitas dari dampak kemajuan di bidang seni, sains dan teknologi. Dan boleh jadi.. masa depan anak-cucu kita kelak akan merasakan amat kekurangan pada pendidikan agama, jauh dari tuhan dan mengagungkan materi; pula mengalami kemunduran dalam urusan akhlak, besar cintanya pada dunia dan takut mati.

Bagaimana dengan kita?

Apakah aku telah lalai dalam mendoakanmu? Maafkan

Apapun posisi kita, sebagai orangtua, pasangan, anak, sahabat, saudara, atau apapun relasi yang menghubungkan diri dengan orang-orang di sekitar maupun yang jauh lagi masih dalam keterikatan; maka semoga kita tak lalai dalam mendoakan kebaikan.

Wilujeng wengi, shalihin-shalihat. Selamat berdekat-dekat dengan yang Maha Penyayang.

Tulungagung, 25 Ramadhan 1435 H

Orang tidak akan melihat sebaik apa kau berusaha. Yang mereka lihat hanya apa akhirnya kau bisa memuaskan ekspektasi mereka. Tapi setiap kali caci maki itu dilempar ke wajahmu seakan kau tidak berupaya, berbahagialah karena hidup ini bagi Allah bukan tentang kau sampai dimana. Tapi bagaimana kau merangkak mencapainya.
— (via jagungrebus)

SPN : Menjaga Kehormatan Perempuan

Sebuah tulisan untuk laki-laki.


Karena saya tahu bagaimana rasanya menjadi laki-laki. Saya menulis ini. Ada satu hal yang mungkin perlu kita (sebagai laki-laki) pahamkan dalam diri kita. Terlepas dari apapun kepercayaan yang kita imani, terlepas dari segala pemahaman hidup kita masing-masing. Sudah menjadi kewajiban laki-laki untuk menjaga kehormatan perempuan. Ini lebih utama daripada sekedar menjaga secara fisik.

Laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda dan tidak akan pernah sama. Karena sebagai mana ciptaan Allah yang lain. Semua memiliki peran yang berbeda satu sama lain. Tidak saling tumpang tindih atau menghancurkan, tapi semuanya diciptakan untuk saling melengkapi juga menyeimbangkan. Begitu pula laki-laki dan perempuan.

Dalam agama yang saya imani, ada aturan-aturan dalam interaksi antara laki-laki dan perempuan. Tujuannya pun untuk menjaga kehormatan, tidak hanya salah satu, tapi keduanya. Terlebih islam sangat memuliakan perempuan.

Apa yang hendak saya sampaikan ini khususnya untuk laki-laki. Dalam interaksi kita kepada perempuan. Kita harus memiliki sikap yang jelas. Ini penting, karena yang kita hadapi tidak hanya perempuan dalam bentuk fisik, tapi juga dalam bentuk perasaan.

Ketika kita telah mengutarakan niat baik kita kepada perempuan untuk berproses menuju ke jenjang pernikahan. Itu tidak serta merta membuat kita bebas melewati batas, bebas melanggar norma atau aturan. Karena dimata Allah, sejatinya kita bukan siapa-siapa untuk perempuan ini. Ungkapan perasaan kita bukanlah kalimat ijab kabul. Tidak memiliki kekuatan apa-apa dan sangat berisiko melukai perasaan perempuan tersebut bila kita sebagai laki-laki tidak berkomitmen untuk mewujudkannya.

Bila pun saya berproses nanti. Saya berprinsip untuk tidak menyebut nama perempuan yang saya tuju secara sembarangan kepada orang lain ataupun kepada khalayak. Ini menurut saya penting, bukan soal saya tidak mengakuinya. Tapi ini cara saya untuk melindunginya (juga melindungi saya) dari fitnah. Ataupun dari kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di depan. Lindungilah kehormatan perempuan dengan tidak menyebut namanya sembarang. Dengan begitu, sang perempuan akan terjaga baik kehormatan ataupun harga dirinya. Dan perempuan akan lebih percaya kepada laki-laki yang bisa menghormatinya dengan baik, tidak hanya setelah pernikahan, tapi jauh sebelum itu. Seorang ayah pasti marah bila ada laki-laki diluar sana yang dengan sembarang menyebut-nyebut anak perempuannya.

Rahasiakanlah dengan baik sampai pada waktunya tiba. Meski perempuan memang pada dasarnya ingin diakui, tapi kembalikan pertanyaan itu. Diakui sebagai apa? Allah sendiri belum mengakui, bagaimana seseorang bisa mengklaim dia miliku, atau aku milikmu.

Proses yang baik adalah proses yang melibatkan Allah, tidak hanya dalam wujud doa tapi juga menggunakan apa-apa yang Dia rancang, yang Dia tuntunkan dengan baik. Sepanjang laki-laki dan perempuan bisa menjaga diri, keduanya bisa saling menjaga kehormatan. Maka, Allahlah sejatinya yang akan menjaga keduanya sampai pada waktu yang sudah digariskan keduanya berjalan pada satu jalan yang sama.

Laki-laki harus punya sikap yang jelas. Dan punya prinsip yang baik. Kata teman saya suatu hari, laki-laki harus bisa mengambil keputusan untuk mengambil jalan mana yang akan ditempuh dan baik kepada perempuan. Sebab perempuan akan selalu lebih bermain perasaannya.

Godaan terbesar kita sebagai laki-laki adalah perempuan. Maka, berkomunikasilah untuk membuat komitmen agar bisa saling menjaga diri dan menjaga kepercayaan satu sama lain. Bahkan, kesetianmu akan diuji jauh sebelum ia menjadi istri kan?

Selamat menjadi laki-laki.

Rumah, 3 Juni 2014 | (c)kurniawangunadi

Tulungagung, 22 Juni 2014

superbmother:

Dikisahkan seorang laki-laki shaleh senantiasa berbakti kepada Ibunya yang sudah renta. Lelaki itu mengorbankan seluruh waktu, tenaga, dan potensinya untuk merawat ibunya. Dia selalu menggendong Ibunya, karena Ibunya lumpuh. Dia juga senantiasa memandikan dan mensucikan Ibunya

Suatu hari, dia bertanya kepada Umar bin Khatthab ra. setelah menceritakan pengorbanan yang ia lakukan pada Ibunya, “Wahai Umar, apakah pengabdianku sudah cukup untuk membalas budi ibuku? 

Umar pun menjawab, “Tidak! Tidak cukup! Karena engkau melakukannya sembari menunggu kematiannya, sementara ibumu merawatmu sembari mengharapkan kehidupanmu”

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang muliaDan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil."  

(Al-Israa : 23-24)

Tanyakan padaku
ask.fm/hqqferdian

(Source: )

Tulisan : Mereka Kira Hidupmu Baik-baik Saja

Mereka kira, kamu tidak memiliki masalah. Tampak ceria dan membanggakan. Lahir dari keluarga yang hebat juga sekolah yang tinggi. Mereka yang hanya melihatmu dari pukul 9 pagi sampai jam 3 sore mungkin. Ketika di tempat bekerja, di cafe tempat kalian berjanji bertemu, atau berpapas di jalan.

Mereka kira, kamu baik-baik saja. Mereka kira kamu tidak memiliki ketakutan ataupun kesedihan. Dan mereka mungkin tidak akan pernah tahu sampai kau sendiri benar-benar menceritakannya.

Mereka kira menjadi orang dengan gelar atau profesi sepertimu itu menyenangkan dan luar biasa. Menjadi seorang dokter muda, menjadi seorang insinyur, menjadi seorang penulis. Apapun itu. Mereka kira kau baik-baik saja.

Dan mereka sungguh tidak akan pernah tahu apa yang benar-benar terjadi terhadapmu. Ketakutanmu pada sesuatu yang kamu rahasiakan, entah itu masa depan, entah itu kebingunganmu menghadapi orang tua, entah itu masalah finansialmu, entah itu masalah masa lalumu, atau masalah pekerjaanmu. Mereka tidak benar-benar tahu.

Kau bisa saja tertawa dan terlihat baik-baik saja saat bersama dengan mereka. Bercerita hingga berbusa busa tentang ideologi dan impianmu. Tentang hidupmu, cita-cita, hingga pencapaian-pencapaianmu.

Tapi lepas itu, lepas berpisah dengan mereka. Dan kamu kembali dengan dirimu sendiri. Membuka pintu rumahmu yang sepi, kamarmu yang sempit. Dan kembali menghadapi kesendirianmu kala malam mencekam. Dan kamu teringat kembali kepada kegelisahan dan ketakutanmu. Pernahkah mereka melihatmu dalam keadaan sendiri baik secara fisik maupun psikis seperti itu.

Tidak pernah kan?

Dan, mungkin selama itu pula mereka kira hidupmu baik-baik saja.

Bandung, 14 April 2014 | (c)kurniawangunadi

(Source: kurniawangunadi)

(Source: tabi-saki)

Ya, ada cinta! Aku jatuh cinta pada kata-kata. Namun tak slalu aku ingin membicarakannya.

lionofallah:

And He gave you from all you asked of Him. And if you should count the favor of Allah , you could not enumerate them. Indeed, mankind is most unjust and ungrateful.

Surah Ibrahim | Verse 34

www.lionofAllah.com

Menatap langit bertabur bintang gemintang!

(Source: claudio-c-k)

moghamara:

My day in Adʿiyah

Mari berdoa :)

Wahai Allah.. Sejak lama, ingin sekali aku bisa menunjukkan kepada segenap bangsa ini, nyata adanya sejumlah manusia yang rasa cintanya terhadap tanah air dan ummat ini melebihi rasa cinta mereka terhadap diri mereka sendiri.

Nyata adanya sejumlah manusia yang telah mewakafkan harta dan jiwanya, siang dan malamnya, mimpi dan obsesi pribadinya, untuk kebaikan negeri ini. Nyata adanya sejumlah manusia yang menangis di malam-malam sunyi, memohon kepada-Mu kekuatan untuk membangun negeri ini. Nyata adanya sejumlah manusia yang meski telah membawa banyak luka dan perih, dicurigai, dan dicaci, tak letihnya mereka tetap berdiri demi cita-cita mulia negeri ini.

Wahai Allah.. Aku menyaksikan mereka hanyalah hamba-Mu yang lemah. Maka kuatkanlah mereka. Aku menyaksikan mereka hanyalah hamba-Mu yang miskin. Maka cukupkanlah mereka. Aku menyaksikan mereka hanyalah hamba-Mu yang sederhana. Maka handalkanlah kemampuan mereka. Karena sesungguhnya Engkau pun telah mengetahui, hati mereka hanya merindukan ridha-Mu atas amal-amal mereka dan atas tanah air ini.

Wahai Allah.. Aku merindu Islam mewujud menjadi rahmat bagi negeri ini dan seluruh penduduk bumi. Aku pun merindu seluruh manusia bisa menikmati kedamaian dan kebahagiaan yang dipersembahkan Islam. Dan aku menyaksikan kerinduan yang sama memenuhi hati-hati mereka. Maka, wahai Allah, bimbinglah hamba-hamba-Mu dalam menegakkannya. Ampunkanlah mereka. Kuatkanlah mereka. Sertailah mereka. Mampukanlah mereka. Engkaulah yang Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha Penguasa.

— Doaku, untuk Partai Keadilan Sejahtera. (via yasirmukhtar)